UncategorizedWorld

Maskapai Alami kerugian hingga $113 miliar karena Covid-19

16/03, COVID-19 (virus Corona) yang melanda dunia, rupanya juga sangat berdampak pada industri penerbangan. Dimana berdasarkan data yang dirilis The International Air Transport Association (IATA) memperkirakan kerugian mencapai $113 miliar atau setara dengan Rp 1.606 triliun. IATA juga mengungkap jika maskapai bisa kehilangan 19% dari bisnis mereka.

Untuk kawasan Asia Pasifik sendiri IATA memprediksi maskapai kehilangan penjualan sekitar $58 miliar. Pembatasan perjalanan dan menurun nya permintaan dari pelanggan telah membuat banyaknya maskapai membatalkan penerbangan dari dan ke China. Serta pembatasan juga dilakukan untuk penerbangan rute trans atlantik hingga Eropa dan Amerika Serikat.

Berdasarkan berita dari CNN salah satu maskapai asal Inggris Flybe telah menyerah dan akan diambil alih oleh maskapai asal Skotlandia Loganair, dan kemungkinan hal ini tidak akan berimbas pada Flybe saja, terutama bagi maskapai Eropa yang tidak mendapat dukungan dari investor atau pemerintah. Direktur Pelaksana Fitch Ratings Josef Pospisil mengatakan jika sebagian maskapai besar memiliki neraca yang cukup kuat dalam menghadapi guncangan permintaan yang disebabkan oleh virus corona. Namun, operator kecil terutama yang berbasis di Asia akan lebih rentan.

Alexandre de Juniac CEO IATA mengungkapkan “pada tahap ini sulit untuk mengatakan apakah akan ada lebih banyak kebangkrutan. Jika durasinya sama dengan wabah SARS di masa lalu atau H1N1, maka akan terjadi empat hingga lima bulan, industri harus mengatasi krisis, mungkin dengan beberapa korban dan ia menambahkan jika wabah virus corona berlangsung lebih lama dari wabah SARS maka akan lebih sulit untuk maskapai penerbangan besar bertahan.

Juniac mengatakan industri telah meminta beberapa pemerintah untuk membebaskan dari biaya maskapai penerbangan. Menurutnya, permintaan ini meningkatkan kemungkinan dana talangan pemerintah untuk maskapai, mirip dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat setelah serangan 9/11. “Jika wabah ini berlangsung, kami mungkin akan memerlukan bantuan pemerintah di dunia, terutama di mana maskapai penerbangan lemah secara finansial, dan kami akan meminta bantuan,” katanya.

Krisis juga telah berimbas pada maskapai Amerika Serikat. CEO Southwest Airlines Gary Kelly mengungkap sepekan terakhir industri bak mengalami peristiwa 9/11. “Perasaan 9/11. Tidak ingin terbang karena alasan yang jelas,” ungkap Kelly. American Airlines, maskapai terbesar di dunia, membatalkan penerbangan internasional karena penurunan tajam dalam permintaan terbang. Penurunan permintaan terbang telah memukul saham maskapai dunia dalam beberapa pekan. Saham United Airlines (UAL) turun 32 persen sepanjang tahun ini, sementara saham Lufthansa Jerman turun 29% sejak awal tahun.

Lufthansa mengatakan bahwa mereka telah membatalkan 7.100 penerbangan Eropa untuk Maret. Sebagian rute yang dibatalkan menuju Jerman dan Italia. Source: CNN (mkd)

Tags
Show More
Daftar SMK Citra Angkasa School !!!

Related Articles

Back to top button